Ulasan Film: The Conjuring – The Devil Made Me Do It (2021)

0
Sumber Gambar: IMDB

Dibuka dengan prolog bahwa ini adalah kasus yang paling menghebohkan yang pernah ditangani oleh Ed dan Lorraine Warren sampai menjadi headline berita nasional, film masuk ke adegan penampakan sebuah rumah di daerah terpencil, di dalamnya Ed (Patrick Wilson) dan Lorraine (Vera Farmiga) bersama keluarga Glatzel mencoba melakukan exorcism terhadap si bungsu dalam keluarga tersebut, David (Julian Hilliard).

Namun proses exorcism tidak berlangsung mulus karena Pastor Gordon (Steve Coulter) yang membantu mereka pingsan terkena lemparan piring akibat amukan David.

Di saat Ed yang kepayahan bahkan nyaris mati di tangan David, Arne (Ruairi O’Connor) pacar kakak David, Debbie Glatzel (Sarah Catherine Hook), merangkul David dan membisik, “Lepaskan dia, ambil aku saja.”

Iblis yang ada di dalam diri David seketika pindah ke Arne. Ed yang sempat melihat kejadian tersebut pada akhirnya pingsan. Situasi menjadi terkendali.

Selang waktu beberapa hari, Arne bersama Debbie yang bekerja di penangkaran anjing milik Bruno (Ronnie Blevins) mengalami peristiwa-peristiwa aneh sampai terjadi gelut antara Arne dan bossnya, Bruno.

Ed yang tiba-tiba terbangun dari pingsannya langsung berteriak ke Lorraine bahwa Arne sudah dikuasai oleh iblis. Namun terlambat, Arne telah membunuh Bruno dengan 22 tikaman.

Polisi yang menemuinya di jalan raya kaget dengan kondisi Arne yang berlumuran darah. Ed dan Lorraine harus berjibaku dengan waktu untuk menyelidiki kasus tersebut, yang mana Arne terancam hukuman mati.

Apakah ini murni kriminal, ataukah karena iblis yang sudah merasuki Arne seperti yang diketahui oleh Ed, juga seperti pembelaan Arne bahwa iblis yg membuatnya melakukannya, ataukah ada hal lain lagi yang lebih mengerikan di balik itu semua?

Tak bisa dipungkiri dalam hampir 10 tahun terakhir ini dunia perfilman memiliki standar kengerian baru untuk film horor.

The Conjuring yang rilis pertama kali pada tahun 2013 begitu mengerikannya sampai mau tidak mau, suka atau tidak suka, film horor lain yang muncul akan selalu dibandingkan dengan film ini.

Ada yang memang bagus, bisa mengimbangi, tapi banyak juga yang melempem. The Conjuring sendiri akhirnya memiliki spin-offs alias “anak-anak” kemudian, yang memperlebar kisah di balik relics yang ada dalam The Conjuring, seperti Annabelle dan The Nun, dan The Conjuring itu sendiri yang kini berada di jilid ketiga.

Baca Juga:  Ulasan Film: A Quiet Place Part II (2020)

Mengingat dua jilid awal The Conjuring, Anda pasti hafal bagaimana isi kedua film tersebut.

Ya, kedua film membawa pengalaman horor yang murni tentang arwah, iblis, setan, atau apalah itu namanya yang begitu mengganggu bahkan membahayakan manusia.

Nah, jika Anda suka dengan kisah-kisah seperti ini, maka ada potensi Anda akan tidak suka dengan The Conjuring: The Devil Made Me Do It.

Kali ini, tim penulis film ini, James Wan, David Leslie Johnson-McGoldrick, Chad Hayes dan Carey Hayes, dengan naskah besutan Johnson-McGoldrick, mencoba mengeksplorasi semesta The Conjuring dengan memasukkan unsur kriminal ke dalam kisahnya.

Sayangnya, percobaan ini tidaklah terlalu mulus. Roh semesta The Conjuring beserta spin-offs-nya yang murni dari persoalan aktivitas paranormal tidak bisa diimbangi dengan begitu mulus oleh kisah kriminal di balik The Devil ini.

Arne yang (mungkin) bisa dijadikan pusat pengembangan cerita film ini terasa menjadi karakter yang biasa-biasa saja.

Padahal potensi penggalian dan pendalaman kisah dari karakter Arne begitu besar, yang mana judul film ini memang terarah ke karakter Arne.

Pada akhirnya, pertentangan antara kriminal murni dan aktivitas paranormal akhirnya menguap begitu saja. Sayang sekali, tim penulis seperti lebih suka mengembangkan karakter Ed dan Lorraine, itu pun tidak banyak.

Meskipun ada sedikit impact pada film ini, karakter keduanya rasanya sudah cukup diangkat di film-film sebelumnya.

Yang bikin tambah minus adalah sutradara dari film ini, Michael Chaves, yang belum memiliki resume yang mumpuni dalam hal mengarahkan sebuah film.

Karya sebelumnya adalah The Curse of La Llorona, yang juga bergenre horor, bahkan bisa dibilang medioker, menjadi caci maki kritikus.

Chaves seperti kepayahan membangun atmosfer horor lewat visualisasi latar, ini juga tidak lepas dari apa yang dihasilkan oleh tim penulis.

Atmosfer drama campur horor yang menjadi nyawa di jilid 1 dan 2 seperti nyaris tak berbekas di sini.

Juga, adegan-adegan jump scare yang menjadi senjata semesta The Conjuring begitu mudah diantisipasi, khususnya mereka yang sudah “berpengalaman” dengan film-film horor.

Camera angles progresif yang begitu efektif dipakai James Wan dalam membangun atmosfer ketegangan sebelumnya juga absen di sini.

Baca Juga:  Film Hollywood Keren yang Tayang di Bulan Januari 2020

Dari deretan casts, hanya Patrick Wilson dan Vera Farmiga yang cukup bisa diapresiasi, semakin berkembang. Ya, seperti yang dikatakan sebelumnya, porsi pengembangan karakter film ini tetap berada pada karakter mereka berdua, Ed dan Lorraine, alhasil ya seperti itulah.

Ruairi O’Connor sebagai Arne seperti hanya pemanis belaka, apalagi Sarah Catherine Hook sebagai Debbie.

Yang cukup menarik simpati justru karakter misterius Kastner yang diperankan oleh John Noble, dengan wajahnya yang khas (ingat karakter Denethor di The Lord of The Rings?) cukup bisa mengundang simpati.

Bagaimana dengan Eugenie Bondurant? Penampilannya yah biasa saja.

Hal positif dari The Devil selain pengembangan karakter Ed dan Lorraine yang disebutkan di atas, adalah dari sisi teknis.

Suara dan editing dari film ini cukup bagus, bantingan pintu terasa begitu nyata, keras, dan mengagetkan, begitu juga efek-efek suara lainnya.

Tentunya Anda harus menikmati ini di bioskop yang memiliki teater dengan dukungan tata suara yang mumpuni, seperti Dolby Atmos.

Departemen special effects dan make up juga berkontribusi baik dalam film ini, terlihat pada adegan exorcism di pembukaan film yang begitu luar biasa, apalagi pada saat David mengamuk, badannya remuk dan patah, saat iblis di dalamnya mengamuk, juga di adegan yang sama menjelang penutup film yang menimpa Arne.

Waktu lima tahun dari jilid kedua rasanya bukan waktu yang cepat, ini sebenarnya cukup bagi Warner Bros untuk mengembangkan dengan baik franchise yang membawa banyak keuntungan bagi mereka dari genre horor, tapi melihat hasil seperti ini, valid rasanya mengatakan bahwa film ini terasa seperti film yang terburu-buru.

Pada akhirnya, seperti yang disebutkan pada kalimat pembuka artikel ini, tidak menonton film ini (di bioskop) akan menyesal rasanya. Menonton film ini (di bioskop) dengan hasil seperti ini juga menyesal rasanya, what a guilty feeling.

My rate: 6/10

The Conjuring (2013): 8/10

The Conjuring 2 (2016): 8/10

Goroho.ID adalah media literasi nirlaba yang berbasis di Manado, Sulawesi Utara, yang menyediakan platform untuk menulis. Kami menyajikan artikel yang ringan, menarik, dan informatif. Selengkapnya tentang kami bisa dibaca di sini

Pencinta Film

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.