Ulasan Film: Double World (2020)

0
Sumber: IMDB

Sinopsis

Berniat memuliakan klannya, seorang pemuda desa bernama Dong Yilong memulai perjalanan berbahaya untuk berkompetisi dalam sebuah turnamen seleksi prajurit perang.

Ulasan

Double World diadaptasi dari gim video berjenis Massive Multiplayer Online Role-Playing Game (MMORPG) berjudul Zheng tu.

Film wuxia (silat) bergenre aksi dan petualangan ini di hampir keseluruhan filmnya memaksimalkan penggunaan Computer Generated Imagery (CGI) sesuai tuntutan gim videonya,

Walaupun erat dengan kisah kekaisaran, tidak akan ditemukan scene-scene dengan latar belakang istana peninggalan dinasti tertentu maupun landscape dataran dan pegunungan Tiongkok (yang sangat memanjakan mata dan menentramkan hati) yang sangat umum ditampilkan oleh film-film serial wuxia belakangan ini.

Film yang kira-kira mengambil latar sekitar abad ke-4 setelah jatuhnya Dinasti Jin ini berfokus pada tiga karakter utama, yakni Dong Yilong (Henry Lau), Chu Hun (Peter Ho), dan Jinggang (Chinhan Lin).

Ketiganya mewakili klan persilatan Qingyuan, yang merupakan salah satu dari delapan klan, yang menerima perintah dari kaisar atas ide dari penasihat Guan (Ming Hu) untuk mengirimkan tiga petarung terbaik ke ibu kota untuk mengikuti kontes bela diri.

Baca Juga:  Foxtrot Six, Film Patriotik Indonesia yang Futuristik

Pemenang kontes ini akan menjadi marsekal besar lapangan (panglima perang).

Berbekal sebuah sisir patah peninggalan ibunya yang meninggal setelah melahirkan dirinya, Yilong, yang merupakan pemuda ceria berjuluk berandal di klannya, menjadikan petualangan ini sebagai peluang mengenal dunia luas sekaligus mengungkap asal-usulnya.

Sedangkan bagi Chu Hun yang dijuluki pembelot, ini merupakan peluang untuk membalaskan dendam atas kematian kakaknya di mana penasihat Guan terlibat sebagai aktor di belakang layar.

Karakter Jinggang sendiri tidak dieksplorasi dalam film ini baik masa lalu maupun motifnya, kecuali niat besarnya dalam mengikuti kontes walau harus mencuri totem klan lain sebagai syarat pendaftaran kontes.

Karakter minor yang cukup mendapat porsi adalah Bi Nu (Luxia Jiang), seorang budak negara musuh yang dibeli Chu Hun secara tidak sengaja.

Penggunaan CGI di film ini cukup baik untuk penggambaran latar belakang dan efek-efek transisi, tapi tidak cukup halus untuk karakter monster. Kurang lebih masih satu-dua level di bawah kualitas CGI The Yin-Yang Master: Dream of Eternity.

Pengembangan karakter dan cerita terasa sangat buru-buru, alias tidak banyak berbasa-basi.

Baca Juga:  Goodbye Christopher Robin: Kisah Inspirasi Winnie The Pooh

Namun, film ini memiliki 5-10 menit cerita pembuka yang cukup baik untuk membuat penonton betah untuk melanjutkan.

“Ikatan rantai yang menyatukan” yang beberapa kali diutarakan oleh Jinggang untuk menggambarkan ikatan emosional di antara mereka bertiga juga tidak benar-benar terlihat dalam film ini karena tidak adanya percakapan-percakapan emosional di antara mereka.

Jika Anda seorang penggemar wuxia, Anda harus bersiap-siap untuk kecewa karena minimnya pertarungan dengan komposisi dan koreografi klasik yang memanjakan mata.

Teknik Qing Gong (Teknik Meringankan Tubuh) hebat milik Yilong “hanya” bermanfaat selama kejar-kejaran dengan monster buas.

Di negara asalnya, hak distribusi film ini dimiliki oleh iQiyi. sedangkan distribusi internasional dimiliki oleh Netflix.

Anyway, Double World adalah film yang segar dan menyenangkan.

Sumber: IMDB

Kualitas Film: 6/10 | Kesenangan Menonton: 7/10

IMDB: 6,1/10 (per 22 Februari 2022)

Goroho.ID adalah media literasi nirlaba yang berbasis di Manado, Sulawesi Utara, yang menyediakan platform untuk menulis. Kami menyajikan artikel yang ringan, menarik, dan informatif. Selengkapnya tentang kami bisa dibaca di sini

Jangan paksakan diri, mending rebahan

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.