The Lion King, Film Nostalgia dengan Visualisasi Sempurna

0

Artikel ini mengandung spoiler. Yang paham dengan risikonya, silakan lanjutkan membaca

Sinopsis: Calon penerus raja hutan, Simba, ditipu oleh pamannya yang licik sebagai penyebab kematian ayahnya, Raja Mufasa, dan melarikan diri ke pengasingan dengan putus asa. Kemudian dia belajar tentang identitas dan arti tanggung jawab di saat dewasa.

The Lion King dirilis pertama kali pada tahun 1994 dan langsung menjadi film animasi spektakuler.

Selama lebih dari dua dasawarsa, karakter Simba dkk. masih menjadi salah satu sumber pendapatan Disney melalui versi buat ulang (remake) berbentuk serial animasi serta penjualan merchandise dan hak cipta.

Dan di tahun 2019 ini, tepat 25 tahun setelah Simba mengaum pertama kali, Disney merilis versi buat ulangnya dalam bentuk karakter hidup (live action), tepatnya pada 17 Juli.

Sebenarnya tidak terlalu tepat menyebutnya versi karakter hidup karena masih merupakan film animasi namun dibuat terlihat senyata mungkin.

Tidak ada perubahan isi cerita pada versi kali ini karena hampir 90% mengikuti alur cerita film aslinya.

Tim di Belakang Layar

Seperti biasa, para pengisi suara di film-film animasi Disney adalah para artis terkenal yang memiliki karakter suara unik.

Chiwetel Ejiofor (12 Years a Slave) sebagai pengisi suara Scar, John Oliver (Rick and Morty) sebagai Zazu si Burung, James Earl Jones (Star Wars) sebagai Mufasa sang Raja, serta Seth Rogen (Superbad) sebagai Pumbaa si Celeng.

Dan juga Billy Eichner (Angry Birds) sebagai Timon si Meerkat, Donald Glover (Solo: A Star Wars Story) sebagai Simba, dan Beyonce Knowles-Carter (Penyanyi) sebagai Nala, kekasih Simba.

Yang menarik, pengisi suara semua singa di versi buat ulang ini adalah keturunan Afrika.

Baca Juga:  John Wick: Chapter 3 - Parabellum, Sampai Jumpa dari Mr. Wick

Sutradara film ini adalah Jon Favreau. Selain sebagai sutradara, Favreau juga merupakan seorang produser, artis, dan penulis cerita. Dia sebelumnya berperan sebagai Happy Hogan di Spider-Man: Far From Home.

Komposer film ini masih dipercayakan pada komposer film aslinya, Hank Zimmer. Dia juga sebelumnya merupakan komposer dari film-film megah seperti Blade Runner 2049, Batman vs Superman: Dawn of Justice, Interstellar, dlsb.

Ulasan

Ada tiga nama dalam film buat ulang ini yang sebelumnya terlibat pada film aslinya, yakni James Earl Jones (Raja Mufasa), Hank Zimmer (komposer), dan Elton John (penulis lagu).

Hal ini berarti, selain isi cerita masih sama persis, beberapa elemen inti masih akan setia mengikuti film aslinya, terutama dari sisi scoring (lagu tema, dialog, efek suara).

Dua karakter pelengkap, yakni Pumbaa si Celeng dan Timon si Meerkat berhasil menjadikan film ini menjadi ceria dan kocak, serta makin menyempurnakan film ini berkat dialog dan nyanyian mereka.

Tanpa kehadiran dua karakter ini, The Lion King tak lebih dari sebuah film petualangan seekor singa muda yang hambar.

Lagu-lagu tema (soundtrack) pada The Lion King (1994) seperti Hakuna Matata dan Can You Feel the Love Tonight akan mengajak para penonton dewasa berusia 30-40 tahun bernostalgia dengan film ini.

Penonton dewasa yang saat ini berusia antara 30-40 tahun saat film aslinya dirilis 25 tahun lalu masih berusia 5-15 tahun saat itu dan mereka merupakan penonton utama film ini.

Dengan kualitas scoring yang mumpuni ditambah dengan teknik visualisasi yang tajam dan sempurna dari tiap karakter dan latar belakang film berkat bantuan teknologi CGI (computer-generated imagery), menurut saya ini bukan sekadar film animasi saja, melainkan wisata hutan Tanzania yang memanjakan mata.

Baca Juga:  Film Hollywood Keren yang Tayang di Bulan Agustus 2019

Tidak ada kelemahan-kelemahan teknis dalam film ini, terutama pada penggambaran karakter hewan secara fisik dan atribut biologisnya.

Versi buat ulang ini juga merupakan penyempurnaan dari versi aslinya. Mau contoh? Perhatikan mata dari bayi Simba yang di versi kali ini adalah biru. Di versi aslinya, warna mata bayi Simba adalah coklat.

Secara biologi, singa dilahirkan buta dan tidak dapat membuka mata mereka sampai sekitar sepuluh hari setelah kelahiran mereka.

Warna biru adalah hasil dari produksi melanin yang tertunda, tetapi ini berubah ketika anak singa tumbuh hingga mata mereka berwarna cokelat keemasan pada saat mereka berusia tiga bulan, sebagaimana tercermin pada masa kecil Simba.

Jadi, selain sebagai sebuah film hiburan yang memanjakan mata bagi para penonton dewasa yang ingin bernostalgia dengan masa kecilnya, film ini bisa dijadikan film dokumenter pengetahuan tentang flora dan fauna bagi anak-anak.

Tunggu apa lagi, ayo ke bioskop!

IMDB: 7,1/10 || Rotten Tomatoes 89%

Goroho.ID adalah media literasi nirlaba yang berbasis di Manado, Sulawesi Utara, yang menyediakan platform untuk menulis. Kami menyajikan artikel yang ringan, menarik, dan informatif. Selengkapnya tentang kami bisa dibaca di sini

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.