Pengucapan Syukur Minahasa: Tradisi dan Ajang Kumpul Keluarga

0

Cuaca di hari Minggu pertama di bulan Juli 2019 di Sulawesi Utara waktu itu sedang cerah namun berangin. Kebetulan hari itu Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) akan melaksanakan Pengucapan Syukur, sebuah tradisi yang mirip Thanksgiving-nya Amerika.

Banyak undangan dari kerabat, namun pertimbangan jarak tempuh sekitar 61 kilometer (diukur dari rumah saya yang berlokasi di dekat alun-alun kota Manado ke desa pertama di Mitra) dan kemacetan parah yang pasti akan terjadi, membuat saya mengurungkan niat.

Selain Mitra, ada salah satu desa di kabupaten Minahasa Utara (Minut) yang menggelar acara serupa, yakni Desa Sampiri.

Minut memang tidak menggelar pengucapan syukur serentak seperti halnya kabupaten / kotamadya lainnya, yakni Minahasa Induk (Minduk), Minahasa Selatan (Minsel), Tomohon, dan Mitra.

Setiap kecamatan atau desa di Minut menggelar pengucapan syukurnya masing-masing karena beberapa alasan yang tidak perlu saya jelaskan pada artikel ini.

Perjalanan ke Desa Sampiri

Kebetulan juga ada undangan dari teman di Desa Sampiri yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Manado.

Tanpa pikir panjang, saya langsung mengiyakan undangan tersebut, walaupun di sore harinya saya tahu betul akan ada pertandingan Liga 2 yang berlangsung di Stadion Klabat Manado, mempertemukan tuan rumah Sulut United dan Persiba Balikpapan.

Ini akan menjadi kunjungan pertama saya ke desa Sampiri, jadi saya perlu mengecek rute perjalanan melalui Google Maps terlebih dahulu.

Jam masih menunjukkan pukul 10.30 pagi ketika saya melirik jam di speedometer digital, tepat sesaat sebelum saya memutar handgrip gas motor.

Kabupaten Minut sendiri berbatasan langsung dengan Kota Manado. Desa di Minut yang berbatasan langsung dengan Manado adalah Maumbi.

Kabupaten Minut terdiri dari 10 kecamatan, yakni Kalawat, Airmadidi, Kauditan, Kema, Dimembe, Talawaan, Wori, Likupang Selatan, Likupang Timur, dan Likupang Barat.

Desa Maumbi berada di kecamatan Kalawat dan desa Sampiri di kecamatan Airmadidi.

Sebenarnya ada dua rute untuk mengakses desa Sampiri. Yang paling dekat dari Manado adalah melewati jalan Kuwil-Kalawat dari pertigaan desa Kolongan. Rute kedua adalah melewati jalan Sampiri dari desa Sawangan.

Saya mengambil opsi yang kedua karena jalan dari desa Kuwil menuju desa Sampiri agak rusak karena bencana banjir.

Butuh tidak sampai 40 menit untuk tiba di desa Sawangan, mengingat jalan agak lenggang di hari Minggu. Ketika belok kanan menuju jalan Sampiri, jalan mulai agak menyempit dan makin ke dalam makin rusak.

Sambil bermotor dengan laju yang hanya sekitar 40 kilometer per jam karena jalan yang sempit, berbelok-belok, dan makin rusak, saya mengambil kesimpulan bahwa desa yang akan dituju ini berada di tengah hutan.

Baca Juga:  Semua yang Perlu Ngoni Tahu Tentang Manado Fiesta 2019

Dan benar saja, setelah sekitar 20 menit menempuh jarak sekitar 6 kilometer, mulai terlihat pemukiman yang dikelilingi hutan yang luas.

Kira-kira sudah sekitar pukul 12 siang ketika saya menembus desa Sampiri dan berpapasan dengan warga yang baru selesai mengikuti ibadah syukur di gereja.

Ada dua gereja di desa Sampiri setahu saya, yakni gereja GMIM Sion dan gereja Katolik St. Stefanus.

Rumah tujuan berada di pertengahan desa, namun tidak berada di jalan utama. Saya harus memasuki sebuah lorong.

Gladys, nama teman yang akan kami kunjungi, seorang ibu dari dua orang putra, Timothy dan Thiago, menyambut kami dari teras rumahnya, sambil merapikan meja makan.

“Hei, manjo maso ka dalam, jang taruh kira neh,” sapaan hangat Gladys, yang juga sapaan khas warga Sulawesi Utara pada umumnya ketika ada yang bertamu di rumah.

Kami pun memasuki ruang tamu dan duduk di sofa yang nyaman. Saya, seperti biasa, langsung membuka smartphone untuk memeriksa jika ada pesan masuk di media sosial.

Namun, sayang sekali tidak ada jaringan internet di lokasi tersebut berhubung letaknya berada di tengah hutan Tonsea.

BTS (orang awam menyebutnya tower) terdekat berada di desa Sawangan dan hanya bisa melakukan panggilan telepon. Itu pun harus di tempat yang agak tinggi.

Lupakan soal sinyal internet, karena perut kami sudah mulai keroncongan. Sambil menunggu hidangan utama selesai dimasak, tuan rumah menyuguhi kami dengan tiga kue khas Minahasa, yakni dodol, nasi jaha, dan sesuatu yang asing bagi saya: ambal.

Saya sudah terbiasa dengan menu dodol dan nasi jaha di setiap pengucapan, tapi ambal? Mendengarnya pun baru kali ini. Dibungkus dengan daun nasi, sekilas terlihat seperti nasi bungkus, tapi ada aroma harumnya.

Setelah dijelaskan, ambal itu ternyata bahannya sama seperti kue basah umumnya namun ditambahkan dengan tawa (lemak babi). Pantas saja ada aroma khasnya, imbuh saya dalam hati.

Yang paling ditunggu-tunggu pun tiba. Tuan rumah meletakkan beberapa panstove di meja makan dan mempersilakan kami untuk menyantap makanan.

Saya membuka satu per satu tutup panstove dengan antusias dan hampir semuanya sesuai selera. Ada ikan mujair, sate babi, capcay, ayam goreng mentega, dll., lengkap dengan sup buah.

Tidak ada menu masakan aneh seperti ular, soa-soa, paniki, dll. Makanan yang tersaji tergolong ramah.

Suasana desa perlahan mulai ramai. Jalan-jalan mulai terlihat macet. Musik pun sudah mulai terdengar dari segala penjuru.

Lagu-lagu dari Bassgilano terdengar mendominasi, dengan anak-anak kecil mengikuti alunan lagu-lagu beraliran techno tersebut dengan gaya masing-masing. Ramai dan kocak.

Baca Juga:  Marijo Torang Sambut dan Sukseskan Manado Fiesta 2018

Tradisi Pengucapan Syukur di Minahasa

Pengucapan syukur desa Sampiri yang tidak digelar secara bersamaan dengan desa-desa sekitarnya menurut saya sangat khas dan agak jarang dilakukan desa-desa lainnya di Minahasa.

Pengucapan yang kita kenal, pada umumnya dilaksanakan per kecamatan atau per kabupaten / kotamadya.

Pengucapan desa Sampiri dilakukan setiap hari Minggu pertama di bulan Juli setiap tahunnya, tidak mengikuti kesepakatan bersama atau arahan Camat atau Bupati seperti di daerah lain.

Desa lainnya yang melaksanakan pengucapan syukur seperti desa Sampiri, setahu saya, adalah desa Pungkol yang terletak di tengah perkebunan coklat di kecamatan Tatapaan, Minsel. Mereka melaksanakannya setiap hari Minggu kedua di bulan Juni setiap tahunnya.

Pengucapan syukur di Minahasa pada awalnya merupakan tradisi mengucap syukur kepada Tuhan yang telah memberikan rezeki dalam bentuk panen.

Tradisi ini sudah dilakukan oleh nenek moyang suku Minahasa sejak dahulu kala.

Pengucapan syukur mula-mula memiliki banyak ritual khas, seperti padi hasil panen pertama, dimasak dalam bambu dan dipersembahkan untuk Tuhan.

Sebagian lainnya menjadi persembahan bagi leluhur. Dan kemudian mengundang masyarakat dari wanua (kampung) lain untuk makan.

Namun seiring waktu berlalu, terutama setelah agama Kristen masuk Minahasa, persembahan diarahkan ke gereja, tanpa mengubah makna dan esensi pengucapan syukur itu sendiri.

Dan pada akhirnya, di zaman yang sudah serba modern ini, di mana saya membuat artikel ini hanya dari laptop dan tidak lagi menggunakan mesin ketik yang sudah antik itu; kemudian Anda membaca artikel ini lewat smartphone dan tidak lagi lewat koran, makna dari pengucapan syukur sedikit dimodifikasi walaupun tidak ada perubahan dari segi esensi yakni mengucap syukur kepada Tuhan.

Pengucapan syukur saat ini masih tetap dilakukan oleh mereka yang tidak berprofesi sebagai petani sekalipun, pekerja kantoran misalnya.

Namun kali ini dengan makna yang sudah dimodifikasi tersebut yakni salah satunya sebagai ajang kumpul keluarga.

Semua yang bekerja di perkotaan, akan pulang kampung pada momen pengucapan syukur. Hal ini menjadi tradisi pulang kampung yang selalu dinantikan selain momen Natal. Sangat mirip dengan Thanksgiving-nya Amerika.

Oh iyo kote, sebelum menutup tulisan ini, berikut jadwal pengucapan syukur serentak di Sulawesi Utara selanjutnya:

  • Minsel pada 14 Juli 2019, sementara berlangsung ketika artikel ini naik tayang
  • Minahasa Induk pada 21 Juli 2019
  • Manado (Fiesta) pada 4 Agustus 2019
  • Tomohon pada 11 Agustus 2019
  • Bitung pada 6 Oktober 2019

Tetap jaga tradisi leluhur kita, senantiasa mengucap syukur, dan tetap kontrol ngoni pe gargantang jang takancing neh.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.