Pantai Paal, Surga Kecil di Likupang dan Pesona Sulawesi Utara

0
Pantai Paal
Foto Pribadi

Di bulan Agustus ini, Indonesia semakin gencar melaksanakan Kenormalan Baru (New Normal). Hal ini sangat disambut baik, terutama oleh daerah-daerah yang mengandalkan pariwisata sebagai penggerak utama ekonomi. Sulawesi Utara (Sulut) salah satunya.

Saya masih ingat betul, di momen perayaan kemerdekaan pada 17 Agustus yang lalu, Wali Kota Manado Vicky Lumentut, mengajak semua pihak untuk kembali membuka sektor-sektor pariwisata, tempat hiburan, hotel, dan tempat perbelanjaan.

Hampir di saat yang bersamaan, pemerintah Kabupaten Minahasa Utara melakukan hal yang sama dengan membuka kembali tempat-tempat pariwisata (pantai) mereka yang terkenal. Pantai Paal salah satunya, yang mulai dibuka kembali pada 20 Agustus 2020 yang bertepatan dengan hari libur.

Berita ini sontak menjadi kabar yang sangat baik bagi masyarakat Sulut yang sudah sangat merindukan berwisata di pantai ini.

Hasilnya? Booom… Pantai Paal penuh sesak dengan pengunjung pada hari pembukaan.

Pantai Paal dan Selayang Pandang Tentang Likupang

Pantai Paal terletak di Desa Marinsow, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Pantai Paal berjarak 55 km dari Kota Manado (sekitar 90 menit perjalanan) dan 32 km dari Kota Bitung (sekitar 50 menit perjalanan).

Kabupaten Minahasa Utara terdiri dari sepuluh kecamatan, yakni Airmadidi, Dimembe, Kalawat, Kauditan, Kema, Likupang Barat, Likupang Selatan, Likupang Timur, Talawaan, dan Wori.

Kecamatan Likupang Barat, Likupang Selatan, dan Likupang Timur dulunya merupakan satu Kecamatan, yakni Likupang (Raya). Ada dua kecamatan baru yang sedang diusulkan, yakni Likupang Tengah (Induk) dan Likupang Kepulauan, terkait persiapan pemekaran Likupang Raya menjadi kotamadya/kabupaten yang baru

Satu hal yang menarik, Likupang Raya (dulunya disebut Linekepan) merupakan salah satu dari Lima Destinasi Super Prioritas yang dicanangkan pemerintah. Empat lainnya adalah Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo. Intinya, pemerintah ingin menjadikan lima daerah ini sebagai “Bali Baru”.

Perjalanan di Hari yang Cerah

Awalnya saya ingin mengunjungi sebuah pantai indah yang sedang hangat diperbincangkan masyarakat Sulut yang terletak di Desa Tumpaan, Kecamatan Kakas.

Namun, karena informasi dari beberapa teman yang sudah berwisata ke sana mengeluhkan kemacetan luar biasa karena banyaknya wisatawan lokal yang tumpah ruah, saya pun mengurungkan niat. Setidaknya untuk sementara.

Hari Minggu pagi 30 Agustus, cuaca cukup cerah dan angin bertiup lembut menggoyang daun-daun pepohonan.

Saya memusatkan pandangan ke langit arah Gunung Klabat yang perkasa itu dari alun-alun Kota Manado. Langit tampak biru dengan kelompok-kelompok kecil awan tersebar tidak merata.

Melihat kondisi Gunung Klabat (tertutup awan atau terlihat jelas) merupakan kebiasaan masyarakat Manado untuk memperkirakan kondisi cuaca di Minahasa Utara.

Untuk memastikan, saya memeriksa aplikasi cuaca di gawai Android. Hasilnya, cuaca akan cerah sepanjang hari.

Tak banyak yang saya persiapkan, hanya makanan dan minuman secukupnya karena di sekitar pantai infonya banyak terdapat kios makanan.

Dari Manado sendiri, ada beberapa rute yang bisa digunakan, yakni melalui Kecamatan Wori, Talawaan, dan Kalawat (melewati Desa Sukur). Saya memilih melewati Talawaan (Jalan Manado-Dimembe) karena lebih dekat.

Baca Juga:  Semua yang Perlu Ngoni Tahu Tentang Manado Fiesta 2019

Keadaan Jalan Manado-Dimembe ini tidak terlalu mulus, jadi harus berhati-hati dan mengurangi kecepatan mengingat kondisi jalan tidak terlalu lebar dengan sisi kiri dan kanan langsung berbatasan dengan rumah penduduk.

Ketika tiba di pertigaan Jalan Sukur-Likupang, desa yang dilalui berturut-turut adalah Desa Warukapas, Tatelu, Wasian, Lumpias, Wangurer, Kaweruan, Kokoleh 2, Kokoleh 1, Batu, Sarawet, Likupang 1, Likupang 2, Likupang Kampung Ambong, Wineru, dan yang terakhir Marinsow.

Perjalanan terasa lebih nyaman ketika memasuki Desa Likupang karena kondisi jalan sudah teraspal mulus dan lebar.

Oh ya, di pertengahan Desa Wineru, akan ditemui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan pemandangan ratusan (atau ribuan?) solar cell yang tertata rapi yang terlihat sejak turunan bukit. Cukup instagramable menurut saya.

Setiba di Desa Marinsow, akan ada plang di sebelah kanan jalan yang menunjukkan letak Pantai Paal.

Ada pos terpadu yang harus dilewati. Di situ, ada pemeriksaan suhu tubuh dan masker serta wajib membayar tiket masuk. Untuk motor dikenai tarif Rp10.000 sedangkan mobil sebesar Rp20.000.

Setelah melewati pos, pantai tujuan akan terlihat. Saya melewati jalan menurun dan berbelok-belok sebelum tiba di pantai yang indah ini.

Keadaan Pantai Paal

Ketika tiba di tempat tujuan, matahari hampir tepat berada di atas kepala. Suasana belum terlalu ramai.

Pasir putih terlihat membentang hingga ke pintu masuk utama, tampak papar dan rata, hingga dijadikan tempat untuk parkir kendaraan.

Setelah melewati pintu masuk yang tepat berada di tengah bentangan pantai, saya bingung memilih apakah akan belok ke kiri atau ke kanan. Saya kemudian memilih ke kanan karena suasana agak sepi, tidak banyak mobil yang terparkir.

Banyak kios-kios makanan yang menjual makanan dan minuman ringan. Penganan khas Sulut berupa pisang goroho goreng juga tersedia.

Lebih mendekat ke bibir pantai, saya melihat banyak gazebo. Saya lupa menghitung jumlah pastinya, tapi paling kurang ada sekitar sepuluh.

Ukurannya beragam, ada yang bisa menampung 10 orang hingga 20 orang. Gazebo-gazebo ini bisa disewa dengan kisaran harga Rp100.000 hingga Rp150.000 serta bisa digunakan sepuasnya.

Foto Pribadi

Saya memilih gazebo berwarna hijau yang ukurannya tidak terlalu besar yang memiliki pohon ketapang lebat tepat di depannya. Ini bisa menjadi tempat berteduh yang nyaman buat tidur-tiduran di atas pasir nanti.

Saya datang berdua bersama dengan istri di tempat ini. Kami datang bukan untuk tujuan have fun saja, tapi dalam rangka acara gathering kantor tempat istri saya bekerja.

Sambil menunggu kedatangan teman yang lain, saya mulai menjelajahi keindahan pantai ini.

Matahari semakin terik dan deburan ombak beradu kecepatan menuju daratan yang dipenuhi pasir putih indah yang membentang dari selatan ke utara yang jaraknya kurang dari 1 kilometer.

Gradasi warna pantai, mulai dari putih, hijau muda, hijau tua, hingga biru, menjadi pemandangan yang sangat spektakuler bagi mata-mata yang “hanya” terbiasa dengan pantai di Teluk Manado dan sekitarnya.

Baca Juga:  Tips Merawat Waruga, "Rumah Jiwa" Leluhur Orang Minahasa
Foto Pribadi

Lanskap Pantai Paal mengingatkan saya pada Pantai Kuta, tapi dengan ukuran yang lebih kecil.

Jika Pantai Kuta disebut-sebut sebagai tempat terbaik untuk menikmati matahari tenggelam (sunset), maka Pantai Paal sebaliknya, tempat yang cocok untuk menikmati fajar menyingsing (sunrise), walau saya belum pernah melihatnya secara langsung. Hanya lewat foto-foto teman yang diunggah di Instagram.

Pemandangan matahari tenggelam tidak bisa disaksikan dengan baik dari pantai Paal karena arah barat berada di bagian belakang bukit.

Foto Pribadi

Santai Sambil Ngopi

Udara yang panas memaksa saya untuk berteduh di bawah pohon ketapang. Jam di gawai sudah menunjukkan pukul dua. Suasana sudah sangat ramai.

Saya melihat seorang bapak, yang umurnya sekitar 55-60 tahun. Dia lalu lalang di depan saya, terlihat sibuk berbicara dengan beberapa pengunjung.

Dia kemudian duduk sekitar 5 meter dari tempat saya berteduh. Saya menghampirinya sekalian menyapa sambil berharap bisa berbicang-bincang mengusir ngantuk. Ya, angin sepoi-sepoi di pantai adalah obat tidur yang mujarab.

Membuka cerita dengan sekadar berbasa-basi menanyakan kabar, perbincangan akhirnya berlanjut hingga sekitar satu jam lamanya.

Bapak tersebut bernama Buang. Nama khas Sulawesi Utara yang memiliki sejarah khusus setahu saya. Di tengah pembicaraan, saya memesan segelas kopi hitam.

Foto Pribadi

Bapak Buang merupakan penduduk setempat. Dia bercerita, sebelum Pantai Paal dibuka untuk umum pada tahun 2015, ditandai dengan pembukaan akses jalan yang awalnya merupakan kebun masyarakat setempat, pekerjaan sehari-harinya adalah pekebun.

Namun, semenjak Pantai Paal ramai pengunjung, dia mengurangi aktivitas berkebun. Menurutnya, pendapatan dari menyewakan gazebo-gazebo miliknya, yang saya lupa tanyakan jumlahnya, jauh lebih menguntungkan.

Kebunnya kini hanya sesekali dikunjungi. Bahkan, para pemilik kios yang berjualan pisang goroho goreng diizinkan untuk memanen pisang goroho dari pohon-pohon di kebunnya, yang letaknya hanya di dekat pantai, dengan harga yang murah.

Bapak Buang, sesekali menggaruk-garuk luka di lutut kanannya yang terlihat sudah mengering.

Melihat saya memperhatikan lukanya, dia menjelaskan kalau beberapa hari sebelum Pantai Paal dibuka kembali, dia mengalami kecelakaan motor di area kebunnya.

Sejak pantai ditutup akibat pandemi Covid-19, Bapak Buang “terpaksa” kembali ke pekerjaan lamanya sebagai pekebun.

Perbincangan ditutup karena adanya panggilan dari seorang pengunjung yang menyewa gazebo. Mungkin akan membayar biaya sewa.

Makin sore, pengunjung yang datang semakin banyak karena mungkin mengira bisa melihat matahari terbenam di tempat ini. Sudah saatnya kami beranjak pulang. “Kalah ganti” istilah orang Sulut.

Foto Pribadi

Dan sialnya, di tengah perjalanan pulang , sewaktu memasuki Desa Likupang, hujan deras mengguyur tanpa ampun. Sekali lagi saya ditipu ramalan cuaca salah satu aplikasi Android yang menyatakan cuaca akan cerah sepanjang hari.

Catatan perjalanan:

Mungkin kapan-kapan saya akan berkunjung ke Pantai Pulisan yang letaknya tidak jauh dari Pantai Paal.

Tidak salah memang jika Likupang dijadikan salah satu dari Lima Destinasi Super Prioritas yang dicanangkan pemerintah karena memiliki begitu banyak tempat wisata (pantai) yang sangat indah. Bahkan spektakuler!

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.