Nama-Nama Tokoh dalam Cerita Lucu Manado

0
Redaksi

Saya dan mungkin beberapa orang lainnya—yang tinggal di Bumi Nyiur Melambai—dibesarkan oleh tuturan cerita yang nakal dan jenaka. Barangkali sejak duduk di bangku SD, telinga dan mulut kita masing-masing sudah pandai memahami dan menuturkan cerita-cerita lucu khas Sulawesi Utara dalam bahasa Melayu Manado (selanjutnya akan saya tulis: cerita lucu Manado).

Tentu saja, setiap cerita punya tokoh di dalamnya. Tokoh punya fungsinya sendiri-sendiri. Perihal cerita lucu, tokoh ini berfungsi untuk menciptakan tawa bagi siapa pun yang penikmatnya.

Dalam cerita humor ala Indonesia Timur yang kita kenal dengan MOP (Mati ketawa ala Orang Papua), ada dua karakter yang begitu dikenal. Kedua karakter ini sempat moncer di media sosial, bahkan cerita ini beralih wahana menjadi sebuah film. Kedua tokoh ini adalah Epen dan Cupen. Kalau di Jawa sana, ada nama-nama seperti Kabayan dan Mukidi.

Sedangkan dalam cerita Manado, terdapat beberapa tokoh yang tak kalah masyhurnya sebagai seorang karakter dengan label “lucu”. Saya akan merangkum nama-nama tokoh tersebut berdasar pada cerita-cerita yang saya dengar dan baca dari berbagai sumber.

Alo

Bisa jadi ini adalah tokoh yang paling terkenal, atau bisa kita juluki sebagai Reza Rahadian-nya cerita lucu Sulawesi Utara. Julukan ini menjadi semakin logis, mengingat penokohan Alo ini sering berubah-ubah di setiap ceritanya.

Utu

Berdasarkan riset saya—yang mungkin tidak valid, tokoh Utu ini adalah seseorang (pria) asal Minahasa Utara. Sedangkan dalam banyak cerita lucu Manado, Utu sering berperan sebagai teman tek-tokan Alo.

Ungke

Ungke digambarkan sebagai lelaki yang berasal dari suku Nusa Utara (Sangihe dan Talaud), karakter itulah yang terus melekat pada dirinya. Sebagai seorang tokoh cerita, karakter Ungke dapat dibilang cukup mentereng.

Baca Juga:  Hikayat Charles Hutagalung dan Lagu "Kenangan Natal di Dusun Kecil"

Layaknya grup lawak Warkop DKI yang beranggotakan Dono, Kasino, serta Indro; Alo, Utu, dan Ungke merupakan satu kesatuan yang sering memecah tawa dengan cerita-ceritanya. Saya rasa nama ketiga tokoh itu memang sudah tidak asing lagi bagi warga Sulawesi Utara.

Mince

Selanjutnya dalam list ini, ada tokoh bernama Mince, seorang perempuan asal Sulawesi Utara. Sebagai seorang perempuan, peran yang dimainkannya cukup beragam: ada kalanya dia berperan sebagai anak ABG, tanta-tanta, maupun anak ABG pe tanta. Yang satu ini mungkin Chelsea Islan-nya cerita lucu Manado.

Berikut adalah sebuah cerita yang melibatkan Alo dan Mince.

Alo: “Sayang, sebrapa besar sayang pe Cinta pa kita?”

Mince: “Kita cinta skali pa ngana sayang, kita nyanda sanggup mo bayangkan sebesar apa!”

Alo: “Bilang jo kwa say…”

Mince: “Kita pe cinta pa ngana kira-kira sama deng HP, ngana dia pe kartu, jadi tanpa ngana kita nyanda ada arti say.”

Alo: “So sweet say, hehe. Sayang ini lebay noh…”

Mince: (dalam hati)  “Makase Tuhan, dia nentau kalu HP China dua kartu!”

Nonce

Nonce ini merupakan teman bergosip Mince. Sama-sama perempuan, keduanya hampir punya jatah yang sama dalam setiap cerita lucu Manado. Jadi, kalau job Mince lagi penuh, maka Nonce menjadi pilihan selanjutnya, begitupun sebaliknya.

Pak Pendeta

Keberadaan Pak Pendeta dalam cerita-cerita lucu Manado seringnya berkaitan dengan isu-isu keagamaan masa kini. Kristen sebagai agama mayoritas di Sulawesi Utara tentu membuat karakter Pak Pendeta menjadi mudah dinikmati. Namun, tak jarang pula kita akan melihat pada beberapa cerita, Pak Pendeta ini akan berkolaborasi dengan tokoh-tokoh agama lainnya.

Jemaat

Jemaat ini adalah mereka-mereka yang berguru kepada Pak Pendeta. Dalam proses “perguruan” inilah yang kerap kali memunculkan kelucuan. Kiranya saya perlu untuk menceritakan suatu kisah tentang jemaat dan Pak Pendeta:

Baca Juga:  Tips Merawat Waruga, "Rumah Jiwa" Leluhur Orang Minahasa

Ada tu jemaat so mulai tua maar blum dapa-dapa jodoh, trus dia datang pa Pendeta.

Jemaat: “Pak Pendeta, kita so suka skali mo kaweng maar blum dapa-dapa tu jodoh”.

Pendeta: “Berarti ngana blum beking tu 3B,”

Jemaat: “Apa-apa itu 3B, Pendeta?”

Pendeta: “Berdoa!”

Jemaat: “Oh itu sudah pendeta. Siang-malam kita berdoa.”

Pendeta: “Yang kadua: Bekerja!”

Jemaat: “Sudah pendeta, kita so ada kerja bagus, maar pe susah mo dapa jodoh noh…”

Pendeta: “Berarti B ketiga yang blum,”

Jemaat: “Apa itu?”

Pendeta: “BAKACAAA!!!”

Pak Polisi

Soal cerita lucu di jalanan, Pak Polisi dengan segala pengalamannya sudah mampu memberi warna tersendiri. Cerita lucu ini beragam, mulai dari tilang-menilang, masalah helm, bonceng tiga, dan sebagainya.

Opa

Tak ubahnya seperti orang tua lainnya, Opa hobi menceritakan pengalaman masa mudanya. “Dulu Opa kalo ba perang nda mundur! Soalnya jurang di belakang.”

Buta & Tuli

Buta dan Tuli, keduanya mungkin dapat kita kategorikan sebagai dark comedy—walaupun banyak dari kita tidak menyadarinya. Sebuah kecacatan seringkali menjadi hal yang sulit untuk ditertawakan, tapi di sini kita akan merasakan betapa dasyatnya kekuatan humor.

Kurang lebih itulah beberapa tokoh yang kerap muncul dalam cerita lucu Manado. Sekali lagi, tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi penulis, kalau sekiranya ada yang kurang bisa ditambahkan.

Goroho.ID adalah media literasi nirlaba yang berbasis di Manado, Sulawesi Utara, yang menyediakan platform untuk menulis. Kami menyajikan artikel yang ringan, menarik, dan informatif. Selengkapnya tentang kami bisa dibaca di sini

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.