Midway, Kisah Perang Pasifik dari Sudut Pandang Intelijen

0
Sumber: IMDB

Film ini menceritakan tentang serangan armada laut Jepang ke markas Amerika di Pasifik, yakni di Pearl Harbor dan, tentu saja, Midway, yang menjadi judul film ini, pada 7 Desember 1941. Tonton trailer-nya di bawah ini.

Tampak keren, kan? Sinematografer atau bagian yang bertanggung jawab dalam urusan kamera diserahkan kepada Robby Baumgartner yang pernah membesut The Hunger Games, Battleship, dll.

Sedangkan visual efek film ini sebagian besar dikerjakan oleh tim Pixomondo yang pernah menangani beberapa film megah, seperti waralaba Fast and the Furious, The Hunger Games, Star Trek Into Darkness, The Amazing Spider-Man, dll.

Sutradara film ini adalah Roland Emmerich yang pernah menyutradarai film-film blockbuster, seperti Universal Soldier, Independence Day, Godzilla, The Day After Tomorrow, 2012, White House Down, dll.

Midway juga menjadi film perang bertema kepahlawanan yang kedua dari Emmerich setelah The Patriot (2000).

Nama-nama di atas so pasti menjadi jaminan mutu bahwa film ini pastinya bakalan menarik dan akan memanjakan mata dengan visual efek keren.

Pengantar Sejarah Perang Pasifik

Jika kamu masih ingat tentang sejarah perang Pasifik yang menjadi cikal bakal terlibatnya Amerika dalam Perang Dunia II, maka film ini akan menjadi tontonan yang sangat menarik.

Armada Angkatan Laut (AL) Amerika yang tengah berlabuh di Pangkalan AL Pearl Harbor, Hawaii, di antaranya 8 kapal tempur (Battleship), 3 kapal penjelajah, 3 kapal perusak, 1 kapal latih anti pesawat udara, dan 1 kapal penyebar ranjau, mengalami kerusakan parah serta mengakibatkan korban jiwa sebanyak 2.403 korban meninggal dan 1.178 korban luka akibat serangan ini.

Jepang mengerahkan setidaknya 353 armadanya yang terdiri dari pesawat tempur, pesawat pembom, dan pesawat torpedo dari AL Jepang, dalam dua gelombang serangan, yang diberangkatkan dari enam kapal induk AL Jepang: AkagiHiryūKagaShōkaku, Sōryū, dan Zuikaku.

Aksi Jepang ini mendapat dukungan dari Jerman dan Italia, sesama negara poros. Jerman dan Italia menyatakan perang terhadap Amerika pada 1 Desember 1941, seminggu sebelum peristiwa Pearl Harbor.

Serangan ke Pearl Harbor ini bertujuan untuk melumpuhkan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pasifik, walaupun sifatnya hanya untuk sementara.

Plot Cerita

Pembuka film ini akan menjadi tontonan versi ulang dari dua film bertema perang pasifik, yakni Pearl Harbor (2001) dan Tora! Tora! Tora! (1970), yang menggambarkan serangan armada Jepang yang meluluhlantakkan angkatan laut Amerika. Namun, kali ini dengan visual efek yang lebih wah!

Cerita terfokus pada dua tokoh utama, yakni Edwin Layton yang diperankan oleh Patrick Wilson (The Conjuring, Insidious), seorang ahli intelijen perang, dan Dick Best yang diperankan oleh Ed Skrein (Game of Thrones, Deadpool), seorang pilot pesawat tempur.

Sebelum peristiwa penyerangan Pearl Harbor terjadi, Layton sebenarnya sudah memperingatkan kemungkinan ini ke atasannya berkat informasi yang didapat dari tim pemecah sandi yang dipimpin oleh sosok jenius, Joseph Rochefort (Brennan Brown), namun tidak dihiraukan.

Baca Juga:  Film Hollywood Keren yang Tayang di Bulan Januari 2020
Sumber: IMDB

Sehari setelah penyerangan, Presiden Amerika Delano Roosevelt mengumumkan keterlibatan Amerika dalam Perang Dunia II dan menyatakan perang terhadap Jepang.

Keputusan Roosevelt ini benar-benar mengubah Amerika di kemudian hari, dari negara netral menjadi negara yang mengejar status adikuasa.

Respons militer Amerika terhadap serangan ini adalah mengirimkan tim skuadron B-25 pimpinan Jendral James Harold Doolittle, diperankan oleh Aaron Eckhart (Olympus Has Fallen, London Has Fallen) untuk menyerang Tokyo, yang lebih terlihat sebagai misi bunuh diri dan balas dendam Roosevelt.

Misi ini berjalan sesuai rencana walaupun tidak menimbulkan kerusakan berarti di Tokyo, tapi cukup untuk menyampaikan pesan Amerika terhadap kekaisaran Jepang bahwa mereka telah membangunkan macan yang sedang tidur. Doolittle kelak menjadi pahlawan besar Amerika berkat tugas ini.

Sumber: IMDB

Langkah strategis yang diambil Roosevelt selanjutnya adalah mengangkat Chester W. Nimitz, yang diperankan oleh Woody Harrelson (2012, Zombieland), menjadi komandan tertinggi Armada Pasifik Amerika Serikat (CINCPACFLT) dengan pangkat Laksamana.

Sumber: IMDB

Nimitzt dan Layton kemudian bekerja sama untuk membangun ulang dan memperbaiki markas AL Amerika di Pasifik.

Tokoh utama selanjutnya adalah Dick Best, seorang pilot pesawat tempur yang nekat dan tidak kenal takut. Dengan prinsip “pergi berperang dan tak berpikir untuk kembali”, walaupun memiliki keluarga yang menunggu di rumah, membuat istrinya yang parno, Ann Best, yang diperankan oleh artis dan penyanyi Mandy Moore (A Walk to Remember, Tangled), selalu khawatir akan nasib keluarganya kelak.

Sumber: IMDB

Dari sudut pandang Best, akan diceritakan sekelumit kisah dari para pilot pesawat terbang, yang kepergian untuk bertempur mungkin akan menjadi hal terakhir yang akan mereka lakukan. Dan memang benar, Amerika kehilangan banyak sekali pilot dalam perang Pasifik ini.

Kisah Midway

Midway merupakan sebuah Atol (pulau karang) berdiameter enam mil. Sebagian besar pulau ini tergenang oleh air laut, dan bagian pulau yang tidak tergenang air laut secara terus menerus merupakan bagian terkecil pulau ini.

Letaknya berada di tengah-tengah samudra pasifik, kira-kira setengah perjalanan dari Tokyo hingga San Francisco, karena itulah pulau ini diberi nama “Midway” yang berarti setengah jalan.

Midway memiliki pangkalan udara yang kuat, dan bisa dibilang sebagai “The Guardian of Pearl Harbour”. Midway juga menjadi batu pijakan Amerika dalam kampanye di Pasifik.

Setelah Tokyo diserang oleh Doolittle, Panglima Armada Jepang, Isoroku Yamamoto (Etsushi Toyokawa) menjadi khawatir akan keselamatan Kaisar dan merencanakan untuk menyerang Midway untuk melemahkan kekuatan armada laut Amerika.

Jika Midway berhasil direbut, akan banyak menambah keuntungan bagi kekaisaran Jepang. Di antaranya adalah melebarkan garis pertahanan Jepang, menjadi batu loncatan untuk mendarat di Pearl Harbor, dan menghilangkan akses Amerika untuk melakukan intervensi terhadap Jepang di Pasifik.

Baca Juga:  Annabelle Comes Home, Film Horor yang Menyenangkan

Serangan di Midway juga bertujuan untuk memerangkap dan menghancurkan seluruh armada kapal induk Amerika yang berada di Pasifik: Enterprise, Lexington, dan Saratoga.

Nimitz berhasil mengetahui serangan ke Midway berkat informasi dari tim pemecah sandi dan tidak terpancing serangan umpan Jepang di Aleut.

Pertempuran mempertahankan Midway di pengujung film akan menjadi ajang adu strategi antara Laksamana kedua negara.

Kesimpulan

Film ini memang diangkat dari kisah nyata dan diadopsi dari buku yang ditulis oleh Ed Layton sendiri yang berjudul And I Was There: Pearl Harbor and Midway – Breaking the Secrets, yang menceritakan secara rinci tentang kejadian di balik layar dari keputusan-keputusan strategis Amerika di perang Pasifik berkat hasil dari pemecahan kode sandi.

Ya, buku itu hanya menceritakan kisah-kisah intelijen tentang pemecahan sandi, dan selain fakta sejarah yang sudah kita ketahui bersama, yang tersisa dari film ini merupakan drama tambahan khas Hollywood.

Semua artis di film ini berhasil menampilkan performa yang meyakinkan, bahkan seorang Patrick Wilson yang melekat dengan stigma sebagai aktor film horor, mampu menampilkan sosok Ed Layton dengan baik.

Ed Skrein, yang kemampuan aktingnya begitu terasah di serial TV Game of Thrones, tampak sangat menjiwai perannya sebagai Dick Best yang angkuh dan nekat.

Begitu juga dengan Woody Harrelson, yang terlihat sangat mirip dengan tokoh asli yang diperankannya, berhasil memerankan sosok pahlawan besar Amerika ini dengan sangat meyakinkan.

Ada juga beberapa aktor terkenal yang tampil mengesankan seperti Luke Evans, Dennis Quaid, dan Nick Jonas, yang menjadikan film ini memiliki daya tarik untuk penonton bertipe fandom.

Film ini sangat disarankan untuk ditonton, terlebih untuk para pencinta film-film bertema perang.

Selain menawarkan hiburan sinematik, film ini juga memberikan gambaran akurat akan sejarah Perang Pasifik dan beberapa hal detail yang luput dari film-film sejenis.

Yang kurang dalam film ini hanyalah kualitas suara yang terdengar biasa saja untuk standar film perang dahsyat seperti ini. Mungkin karena film ini tidak dibuat di rumah produksi raksasa Hollywood.

IMDB: 6,8/10 || Rotten Tomatoes 92%

  • Rating:PG-13 (untuk kekerasan perang, bahasa kasar, dan merokok)
  • Genre: Aksi dan Petualangan, Drama
  • Sutradara: Roland Emmerich
  • Penulis Cerita: Wes Tooke
  • Tayang: 8 November 2019
  • Durasi: 138 menit
  • Studio: Summit Entertainment

Goroho.ID adalah media literasi nirlaba yang berbasis di Manado, Sulawesi Utara, yang menyediakan platform untuk menulis. Kami menyajikan artikel yang ringan, menarik, dan informatif. Selengkapnya tentang kami bisa dibaca di sini

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.