Joker: Phoenix’s One Man Show

0
Sumber: IMDB

Setelah kurang lebih sebulan penasaran membaca berita bahwa film Joker besutan Todd Phillips mendapat standing ovation panjang seusai screening di Venice Film Festival, saya akhirnya berkesempatan menonton film yang sudah bikin gaduh, baik di dunia maya maupun di dunia nyata, bahkan setelah seminggu pemutarannya.

Agak telat memang, itu pun bisa saya cancel nonton kalau sudah tidak lagi diputar di teater kesukaan saya yang support Dolby Atmos.

Plot Cerita

Joker memiliki cerita yang fokus pada sosok Arthur Fleck (Joaquin Phoenix), seorang warga Kota Gotham yang memiliki keluhan sakit jiwa yang di saat bersamaan mengalami “penolakan” di mana-mana, mengalami perundungan (bullied), dijebak rekan kerja, dan lain-lain.

Sumber: IMDB

Tambahan lagi, Arthur harus mengurus ibunya yang terbaring sakit, mengalami kesulitan keuangan, jaminan sosial kesehatan diputus karena kondisi Kota Gotham yang sedang sekarat, dan lain-lain. Segala kemalangan tersebut dijalani Arthur yang pada akhirnya membawanya bertransformasi menjadi “monster” bernama Joker.

Sumber: IMDB

Tidak bisa dipungkiri, Todd Phillips, sutradara film ini, betul-betul harus berterima kasih kepada Joaquin Phoenix.

Phillips yang angkat nama lewat Hangover Trilogy dan keterlibatan lain tidak perlu kerja keras dalam mengarahkan Phoenix. Phoenix yang memang dalam beberapa film terakhirnya sangat selektif dalam memilih naskah, betul-betul “jemawa” di sini.

Dalam kurang lebih dua pertiga film ini, Phoenix membawakan Arthur yang begitu rapuh, lemah, tertekan, dan sakit, ya…. sakit jiwa. Memasuki sepertiga akhir film, Phoenix tampil semakin menggila dalam menampakkan sosok Joker, musuh legendaris Batman, yang gila nan sadis.

Bobot body 25 kg yang disusutkannya demi menjiwai sosok Arthur begitu tampak di sini: tulang-tulang rusuk yang menonjol, wajah kurus pucat lusuh, dan jiwa yang sakit mengingatkan saya pada peran Christian Bale di The Machinist.

Tidak lupa tawanya Phoenix yang bgitu ikonik, juga seringai lebarnya begitu menyatu dengan karakter Joker. Tidak berlebihan rasanya jika Phoenix diramalkan bakal membawa pulang Oscar kategori aktor terbaik di Academy Award 2020 nanti.

Baca Juga:  1917, Film Perang Dramatis dengan Visual Memukau

Script dan Score

Dari bagian naskah, rasanya tidak ada yang istimewa di sini. Ada plot twist sedikit memasuki sepertiga akhir cerita, cukup mengagetkan sebenarnya, tapi secara keseluruhan terasa biasa saja.

Hanya saja memang ada beberapa quotes memorable sekaligus provokatif, tapi tetap saja tidak serta merta membuat naskah film ini istimewa.

Dengan naskah yang tidak spesial, jelas berpengaruh pada para pemeran pendukung, karena bagian casting rasanya juga tidak maksimal. Tidak ada satu pun yang bisa mengimbangi Phoenix di sini.

Bahkan Robert De Niro (pemeran karakter Murray) si legenda hidup sekalipun. Entah sengaja atau tidak, tak ada satu pun yang bisa mencuri perhatian.

Sumber: IMDB

Di sektor production design tidak terlihat kemewahan, terutama visualisasi Kota Gotham. Jangan harap Anda bisa melihat kota Gotham seperti di The Dark Knight Trilogy atau seri Batman yang lain. Dengan dana terbatas, dengar-dengar sekitar $55 juta, banyak hal terkait desain setting terasa terlalu seadanya, bahkan rasa film indie begitu kuat di sini.

Di awal tulisan ini saya sempat menyinggung tentang teater yang support Dolby Atmos, dan memang tidak salah jika Anda menonton film ini dengan sistem tata suara termutakhir dari Dolby ini.

Walaupun bukan film action, sound effect dan sound editing film ini begitu luar biasa. Suara tembakan di kereta api begitu mengagetkan, terasa nyata memekakkan telinga. Alunan theme score terasa begitu menyayat, perih, sejalan dengan malangnya kehidupan Arthur.

Sumber: IMDB

Di saat kegilaan Arthur semakin menjadi, musik semakin menggebrak dengan hentakan bass yang seakan sejalan dengan adrenalin-nya Arthur. Walaupun sedikit deja vu dengan theme score game Max Payne 3 beberapa tahun lalu, acungan jempol layal diberikan buat Hildur Guðnadóttir selaku composer di sini, beserta tim tata suara. Keren…

Dari sektor kamera, Lawrence Sher yang sudah cukup sering bekerja sama dengan Phillips, dan terakhir menggarap sinematografi Godzilla: King of Monsters cukup berhasil dalam “menambah” kegetiran hidup Arthur.

Baca Juga:  Foxtrot Six, Film Patriotik Indonesia yang Futuristik

Pada salah satu scene, sederet anak tangga yang akan dilewati oleh Arthur di-shoot dengan angle dari dasar tangga, seakan-akan menggambarkan sampai tangga pun ikut-ikutan menambah kesulitan hidup Arthur. Tone warna juga diatur untuk sejalan dengan pahitnya kehidupan Arthur, cenderung dark dan kusam, khas film-filmnya DC.

Kesimpulan

Well, Joker adalah film yang wajib ditonton oleh para pencinta film. Dengan beberapa kekurangan seperti yang saya sebutkan di atas, semuanya tertutupi oleh gemilangnya akting Joaquin Phoenix.

Untuk penonton awam, jangan harap Anda bakal melihat Batman di sini, sampai-sampai Anda membawa anak ke dalam bioskop. Censorship AS memberi rating R (restricted) untuk film ini, artinya di dalamnya banyak mengandung adegan seks (tidak ada dalam film ini), merokok, makian, kekerasan, darah, dan provokasi.

Hal yang disebutkan terakhir mungkin adalah yang membuat film ini gaduh saat awal pemutaran, dan dianggap paling “berbahaya” bagi remaja tanggung dan anak-anak yang beranjak remaja.

Tingkat kekerasan film ini tidaklah berlebihan, hanya saja ada beberapa adegan yang secara eksplisit menampilkan kekerasan dan darah. Jika dibandingkan dengan sesama film kontroversial lainnya yang rilis nyaris bersamaan, yaitu Midsommar, adegan sadis dalam Joker tidak ada apa-apanya.

Namun, yang pasti, Joker bukanlah tontonan untuk anak di bawah umur.

Story/Script: 7/10
Cast Performance: 9
Technical: 8/10
My Rate/Overall: 8/10

Sumber: IMDB
  • Rating: R (mengandung kekerasan dan bahasa yang kasar, serta perilaku yang mengganggu)
  • Genre: Aksi & Petualangan, Drama, Misteri dan Menegangkan
  • Sutradara: Todd Phillips
  • Penulis Cerita :  Todd PhillipsScott Silver
  • Tayang : 2 Oktober 2019 di Indonesia
  • Durasi: 122 menit
  • Studio:  Warner Bros. Pictures

Goroho.ID adalah media literasi nirlaba yang berbasis di Manado, Sulawesi Utara, yang menyediakan platform untuk menulis. Kami menyajikan artikel yang ringan, menarik, dan informatif. Selengkapnya tentang kami bisa dibaca di sini

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.