Hikayat Charles Hutagalung dan Lagu “Kenangan Natal di Dusun Kecil”

0

Saya, dan juga Anda, yang lahir sebelum istilah Internet diperkenalkan pertama kali (kalimat halus pengganti istilah “generasi tua”), sudah pasti mengenal penyanyi asal Sumatra Utara bernama Charles Hutagalung.

Saya yang waktu itu masih bocah, mulai terkesan dengan penyanyi bersuara khas ini lewat lagu Natal legendaris berjudul Kenangan Natal di Dusun Kecil.

Seiring waktu, saya baru menyadari ternyata penyanyi bertubuh tambun ini juga ternyata merupakan vokalis grup band legendaris The Mercy’s dan juga salah satu penyanyi terpopuler Indonesia di zamannya. 

Hikayat Charles Hutagalung

Charles lahir di Medan, Sumatra Utara, pada 14 Oktober 1948. Sejak kecil, penyanyi yang identik dengan rambut gondrong ini sudah akrab dengan dunia musik. Gereja-gereja di Sumatra Utara, terutama Batak, dikenal sangat berperan besar dalam melahirkan penyanyi-penyanyi bersuara merdu.

Charles sejatinya sudah mulai dikenal di kalangan lokal sebagai pemain organ dan penyanyi yang andal kala masih bergabung dengan band Bhayangkara Nada. Dia kemudian memutuskan keluar pada tahun 1969.

Dilansir dari Tempo, masyarakat mengenal Charles ketika dia mulai bergabung dengan The Mercy’s yang dibentuk di Medan tahun 1969.

Waktu itu, grup musik dan vokal ini masih digawangi Rinto Harahap (bas), Erwin Harahap (gitar melodi), Reynold Panggabean (drum), Rizal Arsyad (gitar pengiring) dan Boen (organ).

Boen kemudian mengundurkan diri, dan Charles mengambil alih posisinya. Pada tahun pertama terbentuk, The Mercy’s masih berpetualang dari satu klub malam ke klub malam yang lain, mulai dari Medan hingga ke Penang, Malaysia.

Tahun 1972, The Mercy’s hijrah ke Jakarta dan masih tampil di beberapa klub malam, membawa lagu-lagu yang mereka ciptakan sendiri. Kemudian, mereka merekam lagu-lagunya di Studio rekaman Remaco. Tercatat sudah 30 album yang dihasilkan The Mercy’s, mulai dari album pop, keroncong, dan rohani.

Kepopuleran The Mercy’s mampu menembus kota-kota besar, sejajar dengan band-band nasional yang ada saat itu. Band ini sempat menjadi idola anak muda tahun 1970-an, dengan rambut gondrong, celana lebar di ujungnya yang biasa “menyapu” jalan, dan baju berwarna ‘jreng’ berdasi ‘lebar’.

Baca Juga:  Semua yang Perlu Ngoni Tahu Tentang Manado Fiesta 2019

Dalam perjalanannya, kepiawaian trio Charles, Rinto, dan Albert sudah menunjukkan kemampuannya dalam menggunakan lirik pada lagu-lagunya seperti: UntukmuHidupku SunyiLove, dan Kisah Seorang Pramuria.

Aksi mereka selalu mencuri perhatian penikmat musik Indonesia dengan liriknya yang banyak bercerita tentang cinta. Charles dan Rinto sangat kuat perannya di The Mercy’s dalam menciptakan lagu dan menyanyi. Karisma Charles sang vokalis, mudah diingat dan menjadi ikon band ini

Pada masa jayanya, nama The Mercy’s pernah masuk dalam The BIG FIVE bersama dengan Koes Plus, Panbers, D’Lloyds, dan Favourite’s group. Dalam perjalanannya The Mercy’s berhasil menyabet enam Golden Record dan sejumlah penghargaan lainnya dari album-albumnya.

Pasang surut yang melanda blantika musik Indonesia juga dirasakan oleh The Mercy’s sejak memasuki dunia rekaman. Rizal Arsyad kemudian meneruskan sekolahnya ke Jerman. Albert Sumlang kemudian bergabung sebagai peniup saksofon.

Tahun 1978, The Mercy’s melakukan rekamannya yang terakhir. Sejak itu, anggota The Mercy’s kemudian mulai terlibat dengan kegiatannya sendiri-sendiri. Erwin Harahap memilih di jalur produser rekaman dan mendirikan perusahaannya sendiri.

Rinto Harahap menjadi penyanyi solo dan pencipta lagu. Demikian pula dengan Charles Hutagalung, lebih dikenal kemudian sebagai penyanyi solo dan pencipta lagu.

Setelah berpisah dengan The Mercy’s, Charles banyak menciptakan lagu untuk dinyanyikan sendiri atau penyanyi lain yang dibimbingnya. Ia banyak menciptakan lagu untuk sejumlah penyanyi seperti : Emilia Contessa, Vivi & Nita, Emma Ratna Fury, Liza Tanzil, dll.

Lagu Natal Legendaris

Charles juga aktif menciptakan dan menyanyikan lagu Rohani Kristen. Lagu Natal berjudul Kenangan Natal di Dusun kecil tetap abadi dan bergema di setiap momen Natal.

Lagu Kenangan Natal di Dusun kecil sangat terkenal [terutama] di daerah-daerah yang berada di timur Indonesia, yang penduduknya mayoritas beragama Kristen yakni: Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Ambon, dan Papua.

Lagu ini sudah mulai terdengar di rumah-rumah masyarakat setempat sejak menjelang Natal di bulan Oktober dan November. Berikut video dan lirik lagunya:

***

Jauh di dusun yang kecil, di situ rumahku
Lama sudah kutinggalkan, aku rindu
Tahun tahun tlah berlalu, menambah rinduku
Nantikan kedatanganku dusunku

Ku ingin mengulang lagi
Kenangan masa kecilku
Kenangan hari natal yang bahagia
Kunyalakan lilin lilin
Kunyalakan lenteraku
Kenangan natal di dusun yang kecil

Kuingin mengulang lagi
Kenangan masa kecilku
Kenangan hari natal yang bahagia
Kunyalakan lilin lilin
Kunyalakan lenteraku
Kenangan natal di dusun yang kecil

***

Baca Juga:  Pengucapan Syukur Minahasa: Tradisi dan Ajang Kumpul Keluarga

Berduet bersama penyanyi cilik, Tissia, lagu dengan irama country bernuansa ceria ini, sarat makna akan kerinduan seorang perantau (Charles sendiri) akan kampung halamannya. Ini tersirat dari ungkapan Charles di pertengahan lagu:

Lama sudah kutinggalkan tempat kelahiranku

Teringat sanak saudara, teman teman bercanda. 

Bergelut di keramaian kota, engkau tak pernah kulupa.

Engkau yang telah membina aku menjadi manusia

Quote by Charles Hutagalung

Lagu ini merupakan lagu utama dari album rohani Kristen berjudul sama produksi tahun 1984 yang diedarkan oleh PT Irama Asia Record. Di album ini, Charles mengajak penyanyi remaja terkenal, Liza Tanzil, dan tiga penyanyi cilik bertalenta: Tissia, Grace, dan Lovenia.

Bukan rahasia lagi  kalau lagu ini merupakan “seruan dan ajakan ” bagi para perantau agar pulang ke kampung halaman setiap Natal. Tidak jarang, rasa rindu yang memuncak akan memaksa air mata keluar setiap kali mendengar lagu ini.

Akhir dari Sang Legenda

Charles Hutagalung tutup usia pada 7 Mei 2001 dalam usia 52 tahun, dalam perjalanannya menuju Rumah Sakit Pertamina. Sejak tiga tahun terakhir, Charles menderita penyakit stroke.

Charles meninggalkan seorang istri bernama Delly Sriati Harahap dan dikaruniai 4 orang anak yaitu Iim Imanuel Hutagalung, Ria Maria Hutagalung, Chepy Chekospi Hutagalung, dan Dian Kristian Hutagalung.

Sebelum meninggal, Charles tetap berupaya aktif berkarya. Dia masih menghasilkan sejumlah lagu pop daerah Manado di sela-sela rasa sakitnya.

Sumber: tempo, liputan6

Goroho.ID adalah media literasi nirlaba yang berbasis di Manado, Sulawesi Utara, yang menyediakan platform untuk menulis. Kami menyajikan artikel yang ringan, menarik, dan informatif.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.